
Tulungagung – Suasana haru mewarnai pelaksanaan Wisuda ke-37 STAI Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung Tahun Akademik 2025–2026 yang digelar pada 30 Agustus 2026 di Ballroom Crown Victory Hotel Tulungagung. Tangis bahagia pecah ketika para wisudawan dan wisudawati diberi kesempatan untuk menemui orang tua, pasangan, maupun keluarga yang hadir sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas doa, dukungan, dan perjuangan mereka selama menempuh pendidikan.
Wisuda tersebut diikuti oleh 48 wisudawan dan wisudawati, yang terdiri atas 32 lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), 9 lulusan Ekonomi Syariah (ES), dan 7 lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Momen yang paling menyentuh terjadi ketika para wisudawan dipersilakan mencari orang-orang terdekat yang hadir dalam acara untuk menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung. Satu per satu wisudawan mendatangi orang tua, suami, istri, maupun anggota keluarga yang selama ini menjadi sumber dukungan dalam menyelesaikan studi di STAIM Tulungagung.
Suasana Ballroom Crown Victory Hotel pun berubah menjadi penuh haru. Tidak sedikit wisudawan dan keluarga yang menitikkan air mata, bahkan beberapa di antaranya terlihat menangis dan sesenggukan karena perasaan yang bercampur antara haru, bahagia, dan rasa syukur setelah berhasil menyelesaikan pendidikan.
Momen tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan seorang mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tidak hanya lahir dari perjuangan pribadi. Di balik keberhasilan para wisudawan terdapat doa, dukungan, pengorbanan, dan semangat dari keluarga yang terus mendampingi selama perjalanan akademik.
Dosen Turut Larut dalam Suasana Haru
Suasana haru tidak hanya dirasakan oleh para wisudawan dan keluarga. Para dosen STAIM Tulungagung juga turut larut dalam suasana emosional tersebut. Kebahagiaan dan kesedihan yang dirasakan para wisudawan seolah menjadi bagian dari perjalanan para dosen yang selama ini mendampingi mereka dalam proses pendidikan.
Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi ketika seorang wisudawati menangis dalam pelukan dosen. Wisudawati tersebut sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Dalam kondisi tersebut, para dosen menjadi sosok yang memberikan dukungan sekaligus hadir sebagai pengganti orang tua dalam momen penting perjalanan hidupnya.
Pelukan antara wisudawati dan dosen tersebut menjadi salah satu gambaran kuat tentang kedekatan emosional yang terbangun selama proses pendidikan. Bagi wisudawati tersebut, keberhasilan menyelesaikan studi bukan hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjuangan hidup serta orang-orang yang telah memberikan dukungan kepadanya.
Momen haru tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan antara mahasiswa dan dosen tidak berhenti pada proses pembelajaran di ruang kelas. Dalam perjalanan pendidikan, dosen juga dapat menjadi sosok pendamping, pembimbing, sekaligus tempat mendapatkan dukungan ketika mahasiswa menghadapi berbagai tantangan.
Menjadi Bekal Meraih Kesuksesan
Rangkaian momen haru dalam Wisuda ke-37 STAIM Tulungagung diharapkan tidak hanya menjadi kenangan bagi para lulusan, tetapi juga menjadi energi baru untuk melangkah menuju kehidupan berikutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, para wisudawan akan menghadapi dunia kerja dan kehidupan masyarakat dengan berbagai tantangan yang lebih kompleks.
Dukungan dan doa keluarga yang selama ini menyertai perjalanan mereka diharapkan menjadi kekuatan untuk terus berjuang meraih cita-cita. Begitu pula kasih sayang dan perhatian para dosen dapat menjadi kenangan sekaligus motivasi bagi para lulusan untuk terus mengembangkan diri.
Wisuda pada akhirnya bukan sekadar seremoni untuk menandai berakhirnya masa studi. Lebih dari itu, wisuda menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui, menghargai orang-orang yang telah berjasa, serta meneguhkan langkah untuk meraih kesuksesan pada tahap kehidupan selanjutnya.
Tangis haru yang mewarnai Wisuda ke-37 STAIM Tulungagung menjadi simbol bahwa setiap keberhasilan memiliki cerita perjuangan di baliknya. Dari doa keluarga, bimbingan dosen, hingga perjuangan para mahasiswa sendiri, semuanya menjadi bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.