Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana ke-37 STAIM Tulungagung Tekankan Pentingnya Critical Thinking untuk Berdayakan Masyarakat
Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana ke-37 STAIM Tulungagung Tekankan Pentingnya Critical Thinking untuk Berdayakan Masyarakat
Mon, 31 August 2026 2:15
5dcbe0f1-aa11-45a2-a277-c5dfff1d04b1 (1)

Tulungagung – Kemampuan berpikir kritis (critical thinking) menjadi salah satu bekal penting bagi sarjana ketika terjun ke tengah masyarakat yang menghadapi dinamika informasi dan persoalan sosial yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan Heri Nugroho, S.H., M.H., Tenaga Ahli DPR RI Fraksi Partai NasDem, dalam Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana ke-37 STAIM Tulungagung Tahun Akademik 2025–2026.

Orasi ilmiah tersebut disampaikan pada Minggu, 30 Agustus 2026, di Ballroom Crown Victory Hotel Tulungagung, dengan mengangkat tema “Berfikir Kritis (Critical Thinking) untuk Berdayakan Masyarakat.” Tema tersebut menjadi pesan penting bagi para sarjana agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menganalisis berbagai persoalan secara objektif sebelum mengambil keputusan.

Heri Nugroho menilai kemampuan berpikir kritis sangat penting bagi para sarjana karena mereka akan kembali dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Menurutnya, masyarakat saat ini berada dalam lingkungan informasi yang sangat terbuka sehingga berbagai informasi dapat dengan mudah diterima dan disebarluaskan tanpa terlebih dahulu diuji kebenarannya.

“Penting untuk bekal para sarjana yang akan terjun di masyarakat untuk melakukan critical thinking, atau berpikir kritis. Karena dinamika masyarakat kita yang terbuka terhadap berbagai informasi sering kali yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar,” ujar Heri Nugroho.

Empat Alasan Critical Thinking Penting bagi Sarjana

Dalam orasi ilmiahnya, Heri menjelaskan terdapat empat alasan utama mengapa kemampuan berpikir kritis menjadi penting bagi para sarjana.

Pertama, critical thinking diperlukan untuk menghindari jebakan hoaks dan informasi palsu. Kemampuan mengkritisi informasi membuat seseorang tidak mudah percaya terhadap informasi yang diterima begitu saja, terutama informasi yang beredar melalui berbagai saluran komunikasi.

Kedua, berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Menurutnya, seorang sarjana akan menghadapi berbagai persoalan ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan masyarakat. Kemampuan memahami persoalan secara sistematis menjadi modal penting agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat tergesa-gesa.

Ketiga, critical thinking membantu seseorang mengambil keputusan secara objektif dan tidak berdasarkan emosi sesaat. Kemampuan mempertimbangkan data, fakta, serta berbagai sudut pandang akan membantu seseorang menghasilkan keputusan yang lebih rasional.

Keempat, kemampuan berpikir kritis dapat meningkatkan efektivitas kerja dan akademik. Dengan kemampuan menganalisis informasi dan menentukan langkah berdasarkan pertimbangan yang matang, seseorang dapat bekerja secara lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

Lima Langkah Membangun Berpikir Kritis

Dalam orasinya, Heri Nugroho juga menjelaskan lima langkah yang dapat dilakukan untuk membangun kemampuan critical thinking dalam menghadapi berbagai persoalan.

Pertama, identifikasi masalah. Langkah awal adalah memahami inti persoalan secara jelas. Seseorang perlu mengetahui masalah yang sebenarnya sebelum menentukan solusi atau mengambil keputusan.

Kedua, kumpulkan data. Setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah mencari informasi dari berbagai sumber yang kredibel. Pengumpulan data diperlukan agar keputusan tidak hanya didasarkan pada asumsi atau informasi yang belum teruji.

Ketiga, ajukan pertanyaan. Data yang diperoleh perlu diuji melalui pertanyaan menggunakan pendekatan 5W+1H, seperti apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Proses bertanya tersebut diperlukan untuk mengetahui kebenaran dan kelengkapan informasi yang diterima.

Keempat, bandingkan berbagai sudut pandang. Menurut Heri, sebuah persoalan tidak selalu dapat dilihat hanya dari satu perspektif. Karena itu, seseorang perlu mempertimbangkan pandangan orang lain atau melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Kelima, tarik kesimpulan dan bertindak. Setelah masalah dianalisis, data dikumpulkan, informasi diuji, dan berbagai perspektif dibandingkan, langkah selanjutnya adalah mengambil keputusan dan menentukan tindakan. Hasil tindakan tersebut kemudian perlu dievaluasi agar seseorang dapat mengetahui efektivitas keputusan yang telah dibuat.

Sarjana Harus Mampu Memberdayakan Masyarakat

Heri Nugroho berharap kemampuan critical thinking yang dimiliki para sarjana tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi maupun dunia kerja, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, sarjana memiliki tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.

“Semoga para wisudawan mampu mewujudkan critical thinking ini untuk menggapai sukses di manapun saudara berkarya dan bekerja,” pesannya kepada para wisudawan.

Ia juga membagikan pengalaman bahwa kemampuan berpikir kritis telah membantunya dalam menghadapi berbagai persoalan dan menjadi salah satu prinsip yang mendukung perjalanan profesionalnya hingga saat ini.

“Pengalaman saya sejauh ini mampu mencapai titik sukses saat ini dengan menerapkan prinsip critical thinking. Ini sangat membantu menyelesaikan masalah dan meraih sukses,” ungkapnya.

Orasi ilmiah tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Wisuda Sarjana ke-37 STAIM Tulungagung Tahun Akademik 2025–2026. Pesan tentang critical thinking diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan masyarakat dengan kemampuan menganalisis informasi, menyelesaikan masalah, mengambil keputusan secara objektif, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan demikian, tema “Berfikir Kritis (Critical Thinking) untuk Berdayakan Masyarakat” tidak hanya menekankan pentingnya kecakapan intelektual, tetapi juga mengarahkan para sarjana agar mampu menjadikan ilmu dan kemampuan berpikir sebagai instrumen untuk memberikan solusi dan memberdayakan masyarakat di berbagai bidang.

Orasi Ilmiah ini seyogyanya di sampaikan langsung oleh Nurhadi, S.Pd, MH,  Anggota DPR RI Fraksi PArtai Nasdem, karena padanya acara Beliau terlambat menghadiri acara tersebut. Namun Beliau tetap hadir, beramah Tamah dengan para wisudawan dan Pimpinan STAIM Tulungagung serta melakukan Foro Bersama.

Uncategorized

Artikel Lainnya

Harmoni Gita Bahana STAIMTA Warnai Wisuda ke-37 STAI Muhammadiyah Tulungagung
Tulungagung, 30 Agustus 2026 — Suasana khidmat dan penuh kebahagiaan mewarnai...
Mon, 31 August 2026 | 2:03
Dari Kampus untuk Ekonomi Syariah, IAEI STAI Muhammadiyah Tulungagung Perkuat Jejaring
Surabaya — Penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia terus dilakukan m...
Mon, 31 August 2026 | 1:45
STAIM Tulungagung Menuju Research University, Wisudawan Didorong Amalkan Ilmu untuk Kemaslahatan Umat
Tulungagung – Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung men...
Mon, 31 August 2026 | 1:20
Gita Bahana STAIMTA Membahana di Yudisium ke-37
Tulungagung, Sabtu, 29 Agustus 2026 — Suasana penuh khidmat dan kebahagiaan m...
Sun, 30 August 2026 | 9:18