
Tulungagung – Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung meneguhkan langkah menuju Research University melalui penguatan profesionalisme dan keilmuan para lulusannya. Hal tersebut disampaikan Ketua STAIM Tulungagung, Dr. Soeripto, M.Pd.I., dalam Wisuda STAIM Tulungagung yang digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026, di Ballroom Crown Victory Hotel Tulungagung.
Sebanyak 48 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi wisuda yang mengusung tema “Mewujudkan Profesionalisme dan Keilmuan untuk Kemaslahatan Umat.” Para lulusan tersebut terdiri atas 32 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), 9 mahasiswa Ekonomi Syariah (ES), dan 7 mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Ketua STAIM Tulungagung, Dr. Soeripto, M.Pd.I., menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah akhir dari proses belajar. Menurutnya, para sarjana telah memperoleh bekal profesionalisme dan keilmuan selama menempuh pendidikan di STAIM Tulungagung, tetapi ilmu tersebut harus terus dikembangkan dan diwujudkan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“Sebagai sarjana yang baru saja menyelesaikan studi di STAIM Tulungagung, Anda sudah dibekali dengan profesionalisme dan keilmuan dari kampus. Namun, jangan puas dengan apa yang Anda peroleh dari kampus saat ini. Tugas saudara adalah bagaimana profesionalisme saudara bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Dr. Soeripto.
Tiga Prinsip Keilmuan
Dalam pesannya kepada para wisudawan, Dr. Soeripto menekankan pentingnya mengembangkan ilmu sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia menyampaikan tiga prinsip yang perlu menjadi pegangan para sarjana dalam mengembangkan keilmuan dan profesionalismenya, yaitu “science for science, science for sedekah, dan science for ibadah.”
Menurutnya, ilmu akan terus berkembang dan dibutuhkan masyarakat apabila diterapkan secara nyata dalam kehidupan. Karena itu, para lulusan tidak cukup hanya menguasai pengetahuan secara teoritis, tetapi harus mampu menjadikan keahlian yang dimiliki sebagai sarana memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Ilmu yang kita miliki akan berkembang dan selalu dibutuhkan masyarakat manakala kita menerapkan tiga prinsip, yaitu science for science, science for sedekah, dan science for ibadah,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa proses belajar yang dilakukan secara berkelanjutan akan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme seseorang. Ketika keahlian tersebut semakin dibutuhkan masyarakat, maka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan juga semakin terbuka. Namun, peningkatan penghasilan dan keberhasilan profesional tersebut hendaknya tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian sosial dan sedekah.
“Dengan belajar dan terus belajar kita akan menghasilkan keilmuan dan profesional di bidangnya, maka keahlian Anda akan banyak dibutuhkan masyarakat. Ketika dibutuhkan masyarakat tentu kita peroleh akan meningkatkan penghasilan, maka jangan lupa untuk bersedekah,” tuturnya.
Lebih jauh, Dr. Soeripto menegaskan bahwa puncak dari pengembangan ilmu bukan semata-mata pencapaian profesional maupun materi. Keilmuan yang dimiliki harus diarahkan sebagai bentuk pengabdian dan ibadah kepada Allah SWT.
“Dari apa yang kita lakukan secara profesional dengan keilmuan itu semuanya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka puncak keilmuan kita semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Allah SWT,” tegasnya.
Lulusan Diharapkan Hadir di Tengah Masyarakat
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa STAIM Tulungagung tidak hanya berorientasi pada menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga sarjana yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Profesionalisme dan keilmuan diharapkan berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan nilai-nilai keagamaan.
Melalui tema “Mewujudkan Profesionalisme dan Keilmuan untuk Kemaslahatan Umat,” para lulusan diharapkan mampu menjadikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Para sarjana juga dituntut untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan profesionalisme sesuai dengan bidang keilmuannya.
Dr. Soeripto berharap seluruh peserta Wisuda STAIM Tulungagung mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan dan dapat meraih cita-cita yang diharapkan.
“Semoga semua peserta Wisuda STAIM Tulungagung mampu menerapkan ilmunya di masyarakat dan mampu meraih cita-cita yang diharapkan,” harapnya.
Tangis Haru Warnai Prosesi Wisuda
Suasana haru turut mewarnai rangkaian Wisuda STAIM Tulungagung. Para wisudawan dan wisudawati tampak menangis terharu ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang selama ini memberikan dukungan dalam menyelesaikan pendidikan.
Ucapan terima kasih tersebut ditujukan kepada orang tua, suami maupun istri yang dinilai memiliki jasa besar dalam perjalanan para wisudawan hingga berhasil menyelesaikan studi. Momen tersebut menjadi salah satu bagian emosional dalam prosesi wisuda karena menjadi pengingat bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan tidak terlepas dari dukungan keluarga dan orang-orang terdekat.
Wisuda ke-37 STAIM Tulungagung tersebut akhirnya tidak hanya menjadi seremoni akademik bagi 48 lulusan, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen perguruan tinggi dalam membangun profesionalisme dan keilmuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah STAIM Tulungagung dalam mewujudkan cita-cita menuju Research University, dengan lulusan yang terus belajar, mengembangkan keilmuan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.