
TULUNGAGUNG – Komitmen internasionalisasi perguruan tinggi terus diperkuat Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, bertempat di Aula Lantai 2 Kampus STAIM Tulungagung, digelar kegiatan International Public Lecture: Strengthening Indonesia-Thailand Educational Collaboration Through International Teaching Practicum and Cultural Exchange.
Kegiatan bergengsi ini menghadirkan dua narasumber spesial yang didatangkan langsung dari Thailand, yakni Mr. Rozi Chemuda dan Mr. Furkorn Musor dari Narathiwat Primary Educational Service Area Office 3, Thailand.
Kuliah umum internasional ini diikuti dengan antusias oleh para mahasiswa dan dosen STAIM Tulungagung. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi besar program internasionalisasi tata kelola perguruan tinggi.
Kepala Kantor Urusan International (KUI) STAIM Tulungagung Hasan Sultoni dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini bertujuan memberikan bekal nyata kepada mahasiswa dalam menghadapi tantangan globalisasi dunia yang semakin borderless atau tanpa batas.
“Indonesia-Thailand sebagai sesama negara di Asia Tenggara yang serumpun bangsa Melayu memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan pendidikan dan merawat budaya Melayu. Ini menjadi modal besar untuk kolaborasi,” ujarnya.
Kehadiran Mr. Rozi Chemuda dan Mr. Furkorn Musor secara khusus ke STAIM Tulungagung menjadi momentum penting untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kolaborasi yang dijajaki tidak hanya berhenti pada kuliah umum, tetapi mencakup empat pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi Plus:
1. Kolaborasi Bidang Pendidikan, khususnya program International Teaching Practicum 2. Kolaborasi Penelitian bersama antar dosen Indonesia-Thailand 3. Pengabdian Masyarakat berbasis kearifan lokal Melayu 4. Pertukaran Mahasiswa dan Dosen (Student and Lecturer Exchange)
Mr. Rozi Chemuda dalam paparannya menyambut baik sambutan hangat dari civitas akademika STAIM Tulungagung. Menurutnya, Indonesia dan Thailand memiliki tantangan pendidikan yang serupa di kawasan perbatasan dan pelestarian nilai-nilai budaya.
“Kami sangat terkesan. STAIM Tulungagung memiliki semangat yang sama dengan kami di Narathiwat. Kami berharap dari forum ini lahir program nyata, mahasiswa Thailand bisa belajar di STAIM Tulungagung, dan mahasiswa Tulungagung bisa mengajar di Thailand,” ungkapnya.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi interaktif dan penjajakan nota Letter of Intent (LoI) sebagai landasan kerja sama internasional ke depan yang akan segera ditindaklanjuti dengan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA). .
Melalui International Public Lecture ini, STAIM Tulungagung menegaskan posisinya bukan hanya sebagai kampus lokal, tetapi sebagai kampus Islam yang siap berkontribusi dan berdaya saing di tingkat Asia Tenggara.