MELINTAS BATAS, MERETAS PENGABDIAN: KKN/PPL INTERNASIONAL STAIM DI THAILAND
STAIMTA.AC.ID. Udara siang pada hari Jum’at, 13 Juni 2025 di Hatyai sangat cerah. Di tengah ketenangan kota perbatasan Thailand Selatan itu, suasana halaman Al-Hidayah Waqaf Foundation for Education and Social Development terasa berbeda dari biasanya. Gerbang yayasan yang biasanya hanya dilalui oleh para santri dan relawan, pagi itu siaga menyambut tamu istimewa dari Indonesia. Delegasi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung bersama sembilan perguruan tinggi lainnya, dalam rangkaian Overseas Academic Study Excursion (OASE), tiba tepat pukul 12.45 waktu setempat.
Para mahasiswa dan pimpinan kampus turun dari kendaraan dengan wajah yang mencerminkan kelelahan sekaligus antusiasme. Mereka baru saja menempuh perjalanan darat panjang lintas negara dari Malaysia menuju Thailand. Namun begitu menjejakkan kaki di Al-Hidayah Waqaf Foundation for Education and Social Development, rasa letih seakan larut oleh sambutan hangat dari para ppengurus Yayasan beserta para ustadz/ustadzh. Senyum ramah para tuan rumah menjadi penyejuk pertama yang menyambut rombongan. Pimpinan yayasan, Adul Meatam, bersama istrinya Salma Meatam—pendiri lembaga yang telah berdiri sejak 2015—tidak bisa hadir dan diwakili diwakili oleh Ustaz Bari. Beliau ditugaskan untuk mewakili Yayasan menyambut kedatangan delegasi mahasiswa Indonesia yang akan melakukan pengabdian selama satu bulan.
Al-Hidayah Foundation, yang secara hukum berstatus sebagai yayasan pendidikan dan sosial, berdiri dari semangat komunitas Muslim di Thailand Selatan untuk menciptakan ruang pendidikan alternatif berbasis Islam dan kemandirian sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga ini berkembang menjadi mitra strategis bagi berbagai perguruan tinggi di Asia Tenggara dalam program pengabdian masyarakat. Dan hari itu, yayasan ini kembali membuka pintu bagi 39 mahasiswa dari berbagai kampus Indonesia—empat di antaranya dari STAIM Tulungagung—untuk melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) internasional selama sebulan penuh.
Pada hari Jum’at siang, suasana aula yang berada di sisi barat bangunan utama sudah dipenuhi hadirin. Kursi-kursi sudah tertata rapi. Di depan pintu masuk, penerima tamu menyambut dengan menyediakan daftar hadir. Rombongan langsung disambut dengan makan siang menu masakan tomyang kung udang, masakan khas Thailand. Beberapa saat kemudian acara “Welcoming Ceremony: International KKN & Teaching Practice Program 2025” yang menandai serah terima mahasiswa KKN dan PPL dimulai di aula utama. Para mahasiswa duduk berdampingan dengan perasaan campur aduk—sebagian gugup, sebagian lain tak sabar memulai petualangan baru mereka.
Suasana acara seremonial berlangsung khidmat dan hangat. Perwakilan delegasi dari KKN dan PPL dari Ketua STAIMTulungaung dan pimpinan perguruan tinggi lainnya menyampaikan sambutan dengan penuh rasa syukur dan harapan. Disusul pidato dari pihak yayasan yang menekankan pentingnya kolaborasi pendidikan lintas negara untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan membentuk generasi muda Muslim yang berpikiran global namun berakar pada nilai lokal. Bahasa yang digunakan bergantian antara Bahasa Indonesia, Melayu Patani, dan sedikit bahasa Inggris, namun maknanya tersampaikan utuh—bahwa pagi itu adalah peristiwa penting yang melampaui sekadar seremoni administratif.
Sorot mata para mahasiswa mencerminkan kesadaran mereka akan tanggung jawab yang sedang menanti. Setelah serah terima simbolik dilakukan—berupa dokumen dan cendera mata dari kampus ke pihak Yayasan—semua hadirin berdiri untuk doa bersama. Doa yang dipimpin dalam bahasa Arab itu menggema dengan pelafalan yang lembut, menyatukan harapan para hadirin dari dua bangsa dan dua budaya berbeda dalam satu ikatan keimanan.
Pada saat yang bersamaan, satu per satu perwakilan dari sekolah-sekolah mitra mulai berdatangan. Sebagian menggunakan mobil, sebagian lagi mengendarai van sekolah untuk menjemput peserta KKN dan PPL. Para kepala sekolah dan staf pendidikan tampak berseri-seri menyambut mahasiswa yang akan mereka bimbing selama satu bulan ke depan. Riuh rendah terdengar ketika nama-nama mahasiswa mulai dipanggil untuk bergabung dengan kelompok mereka masing-masing. Ada yang saling berpelukan, berjabat tangan, atau hanya tersenyum kaku—terutama mereka yang masih beradaptasi dengan budaya baru. Tetapi juga ada beberapa mahasiswa yang semenrata waktu masih harus tinggal di Al-Hidayah Foundation dan proses penjempuannya masih akan dilaksananakan pada hari Senen, 16 Juni 2025.
Distribusi peserta KKN dan PPL dilakukan secara efisien. Terdapat 11 sekolah di Thailand Selatan yang menjadi lokasi pelaksanaan program, tersebar di provinsi Yala, Pattani, Chana, Hatyai, dan Satun. Nama-nama sekolah itu mencerminkan akar budaya dan religiusitas komunitas lokal, seperti Pattanawitya School dan Worasansart School di Yala; Taweewittaya School dan Chongraksat Wittaya School di Pattani; serta Songserm Sasana School dan Yannahwittaya School di Hatyai.
Empat mahasiswa STAIM Tulungagung pun mendapatkan tempat mereka. Ilyas Agung Nasrulloh dan Syahrizal Alifi Yuliantoro ditempatkan bersama di Pattanawitya School, Yala—sekolah dengan basis pesantren yang cukup kuat. Sri Hariati ditugaskan di Worasansart School, juga di Yala, yang dikenal dengan pendekatan pendidikan berbasis karakter. Sementara Octavia Anggraini diantar menuju Songserm Sasana School, Hatyai—sebuah sekolah yang lebih urban, namun aktif dalam pengembangan literasi Islam digital.
Ketika kendaraan terakhir meninggalkan halaman Al-Hidayah Foundation, tersisa hanya jejak roda di tanah dan kesan mendalam dalam hati setiap yang hadir. Acara Seremonial itu menjadi gerbang awal dari perjalanan panjang yang akan dijalani para mahasiswa. Mereka tidak hanya membawa nama institusi, tapi juga nilai-nilai dakwah, semangat pengabdian, dan identitas sebagai duta keilmuan Islam Indonesia.
Hari itu, bukan hanya batas negara yang mereka lewati, tapi juga batas kenyamanan, batas bahasa, dan batas persepsi tentang dunia Islam yang beragam. Di tanah yang asing namun bersahabat itu, mahasiswa STAIM Tulungagung siap menjawab tantangan zaman dengan kerja nyata dan hati yang terbuka. (Soeripto)
